Jumat, 16 Desember 2011

Hima "Lady of Winter" (Chapter 1 : Pendahuluan)


Matahari sudah beranjak ke peraduannya ketika Matsuyama Ishida keluar dari supermarket. Awan gelap menyelimuti kota Tokyo, udara dingin menyeruak di tengah rintik salju putih nan indah. Entah kenapa hari ini terasa lebih dingin dari biasanya, Ia melingkarkan tangannya kemudian bergegas pergi. Ishida menyusuri jalan kecil di pinggiran kota yang menuju ke apartemennya. Ketika tiba di suatu persimpangan, ada seseorang yang berlari ke arahnya dan…

“Prakk”

Orang itu menabraknya dengan suara yang keras. Mereka berdua tersungkur dan orang itu jatuh menimpanya, seorang wanita. Perlahan Ia mencoba bangkit, “Gommennasai” si wanita berulang kali menunduk meminta maaf. 

“Daijobu da yoo” Ia membalas sambil berusaha menampakkan sedikit senyuman “Bagaimana denganmu? Ada yang sakit?”

“Saya tidak apa-apa” jawabnya singkat kemudian bergegas pergi.

Ishida menoleh ke arahnya, Ia tidak mengenal wanita itu tapi sekilas wajahnya terlihat tidak asing. Ishida melanjutkan perjalanan hingga sampai di apartemennya. Meskipun dibilang apartemen sebenarnya itu hanya bangunan kayu tua dengan dua tingkat. Kamarnya menghadap ke utara sedangkan balkon menghadap ke selatan. Hanya ada tiga kamar yang berjajar setiap tingkat dan Ishida tinggal di kamar atas paling kanan –apartemen 203-. Ketika menaiki tangga Ia melihat seorang wanita, ah.. sepertinya itu wanita yang tadi.

“Hei!”

Wanita itu terlompat kaget, beberapa barang berjatuhan dari tangannya .Ishida berusaha membantu memungut mereka. Pandangannya terhenti pada sebuah kunci dengan gantungan berbentuk setengah hati yang potongannya tidak rata di pinggir. Wanita itu cepat berbalik ke arah Ishida. Matanya menatap Ishida dengan pandangan curiga. ”Apa aku mengenalmu?”

“Kau tak ingat? Kau tadi menabrakku.” Jawab Ishida cepat.

“Oh iya, maaf soal itu, aku sedang terburu-buru” balasnya ringan. “Apa kau mengikutiku dan mau meminta ganti rugi?”

“Ah, tidak sama sekali” Ishida berusaha mengelak. “Aku tinggal apartemen sebelah.”

“Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Himari Inoue kau bisa memanggilku hima.” Katanya sembil berusaha mengulurkan tangan tapi karena Ia memegang banyak barang maka Ia menarik kembali tangannya.

“Namaku Matsuyama Ishida, panggil saja Ishida.” Ishida membalas, senyum tampak mengembang di wajahnya. “Mari kubantu!” Ishida membukakan pintu apartemen Hima dan membawakan beberapa barangnya.

Ruang apartemen itu tak begitu luas, sama seperti miliknya. Hanya ada sebuah kamar tidur, dapur kecil yang menyatu dengan ruang makan, kamar mandi kecil, dan balkon.

“Terimakasih atas bantuanmu!” Kata Hima. ”Karena aku baru saja pindah ke sini, jadi banyak barang yang harus kubawa.”

“Sama-sama, jika kau butuh bantuan kau tahu dimana harus mencariku.” Setelah beramitan Ishida masuk ke apartemennya. Ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur, hari ini terasa amat melelahkan baginya. Kerja sambilan ditambah tugas kuliah yang banyak membuatnya kewalahan. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali Ia makan.
Ishida bangkit dan menyiapkan ramen instan yang Ia beli di supermarket tadi. Ia berdiri di balkon menyantap ramennya sambil memandang deretan pohon sakura yang tertutup salju. Sakura di musim dingin seperti pohon mati yang hanya tersisa batangnya saja. Tiba-tiba Ia ingat sesuatu, Ishida berlari masuk ke kamarnya, membuka laci, dan mengeluarkan kotak kayu usang berwarna coklat. Di dalamnya berisi kenangan masa lalu Ishida; foto, surat, dan sebuah potongan kayu. Ia mengambil potongan kayu itu, mengangkatnya dan berusaha mengingat sesuatu.(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar